Inilah hari penuh bahagia dan rezeki. Seperti belum tertidur puas rasanya malam itu, memang kami sekeluarga tidur larut malam karena sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut hari bahagia kakakku yaitu hari pernikahannya. Tiba-tiba semua orang dirumah terbangun pada dini hari itu – sekitar pukul 01:30 -. Terkejut mengetahui bahwa istriku yang sedang hamil tua mengalami pecah ketuban, terjadilah kepanikan seluruh keluarga. Dan kami pun segera membawanya ke bidan langganan keluarga kami.

Dengan membawa semua bekal untuk persiapan melahirkan sesampainya di bidan istriku langsung di periksa dan ternyata kondisinya saat itu sudah pembukaan kedua. Oleh bidan kami hanya disarankan untuk menunggu sampai ada perkembangan selanjutnya hingga pagi hari. Aku dan ibuku menemani istriku pada saat itu dan kami pun tidak dapat tidur sama sekali dalam penantian tersebut dengan sesekali istriku merasakan sakit.

Walaupun sudah hamil tua, usia kandungan istriku sebenarnya masih belum cukup umur karena masih 8 bulan 10 hari. Pada sore hingga malam hari sebelumnya, aku dan istriku melakukan perjalanan dari Malang ke Lumajang, rumah orang tuaku untuk mengikuti acara pernikahan kakak. Karena perjalanan yang memakan waktu lama dan istriku yang tidak pernah perjalanan jauh akhirnya istriku merasa kecapekan. Dan itulah penyebab yang memungkinkan kondisi kandungan istriku mengalami pecah ketuban.

Tak terasa sudah pagi pukul 05:30 dan bidan memeriksa istriku lagi. Ternyata sudah ada perkembangan yaitu sudah pembukaan tiga. Istriku disarankan untuk jalan-jalan agar bisa segera melahirkan dan tetap tenang menghadapinya. Kami tetap merasa khawatir karena semakin lama air terus keluar dan takut kehabisan, ditambah rasa sakit yang kian bertambah pada istriku. Waktu terus berjalan, rasa sakit kian bertambah, air ketuban terus keluar, itulah perjuangan istriku ketika itu. Aku hanya bisa menenangkan, memberi semangat dan mendoakannya.

Tibalah waktu pemeriksaan selanjutnya dua jam kemudian. Alhamdulillah ternyata sudah pembukaan delapan, saat itulah bidan menyuruh kami semua untuk mempersiapkan proses kelahiran dan istriku sudah bersiap di kamar bersalin. Tepat pukul 08:00 proses persalinan dimulai. Aku mendampingi istriku bersama ibuku dan ibu mertua. Saat itulah aku bisa melihat, mendengan bahkan merasakan bagaimana perjuangan seorang wanita melahirkan seorang anak. Tenaga dan keringat terus dikeluarkan dalam perjuangannya. Bahkan kami pun yang hanya mendampingi saja ikut mengeluarkan banyak tenaga dan keringat, hingga suatu saat ibuku hampir pingsan karena kehabisan tenaga. Waktu terus berjalan dan hampir 45 menit masih belum melahirkan. Tak terbayang bagaimana perjuangan yang begitu besar dilalui istriku ketika itu. Pantas saja Alloh SWT menganggap bahwa seorang wanita yang sedang melahirkan merupakan suatu jihad.

Akhirnya sekitar satu jam proses persalinan secara normal, lahirlah seorang bayi. Rasa lega dan bahagia menyelimuti seluruh ruangan kala itu. Kusadari kala itu aku telah menjadi orang tua. Bercampur rasanya, senang, bingung, takjub dan seakan tidak percaya akan pemberian Alloh SWT akan anugerah terbesar bagi kami semua.

Dilakukanlah perawatan dan pemeriksaan pada bayi kami. Kondisinya sehat dan sempurna, walau menurut kami agak kecil karena memang lahir prematur. Sabtu 13 Desember 2015 dengan berat 2.75kg dan panjang 50cm, selamat datang di dunia ini anakku. Semoga engkau bisa memberikan perubahan kepada dunia ini menjadi lebih baik.

baby 1st-d

Inilah kebahagiaan atas anugerah Alloh SWT, anugerah untuk dijadikan amanah khusunya bagiku sebagai orang tua. Kebahagiaan bagi seluruh keluarga kami. Kebahagiaan sebagai hadiah untuk menyambut hari bahagia yang lain pada esok harinya.

[Bersambung…]