Banyak jalan untuk berkarya, salah satu yang saya jalani adalah dengan menjadi entrepreneur atau wirausahawan. Belajar dari perjalanan ini, banyak ilmu yang bisa memantapkan tujuan berkarya, walapun dalam hal pengalaman masih sangat minim.

Tujuan utama atau visi untuk berkarya akan menjadikan kita seperti apa di masyarakat, serta jangan lupa pertanggung jawaban kepada Sang pencipta dan pemberi rezeki. Jadi, tentukan dulu tujuan utama dalam berkarya.

Good Idea

Entrepreneur bukan semata untuk berbisnis praktis, bukan untuk menambah bahkan menumpuk harta dan keuangan pribadi saja, bukan itu indikator utama sukses tidaknya suatu hasil karya. Ada yang jauh lebih baik dan bernilai daripada hanya sekedar harta atau mungkin kekuasaan, yaitu manfaat. Sebesar apa karya tersebut bisa diterima dan bermanfaat di tengah masyarakat.

Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR. Ad-Daraquthni & Ath-Thabarani).

Jangan berpikir seberapa besar uang atau harta yang akan didapat, janganlah itu menjadi tujuan utama. Karena manusia itu akan diperbudak oleh tujuannya. Jika tujuan dalam berkarya adalah semata karena uang, maka uang akan memperbudaknya, tidak akan ada nilai uang yang bisa mencukupi keinginannya. Tetapi jika tujuannya ialah berkarya untuk memberikan manfaat, maka karya tersebut yang akan memperbudaknya, tidak akan pernah puas dengan hasil karya yang seadanya, akan terus berusaha menjadikan karyanya lebih baik, lebih bermanfaat dan terus seperti itu karena ‘perbudakan tujuan’. Bagaimana dengan uang? uang akan datang dengan sendirinya dan yang perlu diketahui, apakah rezeki hanya sekedar uang?, tentunya tidak. Anggaplah uang sebagai apresiasi segala usaha dan karya.

Selain menentukan tujuan yang baik dalam berkarya, jangan lupa untuk mematuhi pedoman syari’ah. Carilah rezeki sesuai dengan pedoman syari’ah karena yang menjamin rezeki tiap makhluk ialah Alloh SWT, bukan pelanggan, perusahaan, asuransi dan yang lainnya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).” (QS. Huud: 6).